White Alice adalah jaringan troposcatter di Amerika Utara milik militer yang sekarang sudah tak aktif dan digantikan fungsinya dengan satelit. White Alice sering digunakan kaum Bumi datar untuk “menjelaskan” adanya layanan dari satelit. Mereka salah. Teknologi troposcatter tak dapat menggantikan semua fungsi satelit.
Troposcatter tidak dipancarkan atau diterima ke atas seperti link satelit jaman sekarang. Sinyal troposcatter dikirim sejajar permukaan Bumi.
Propagasi troposcatter bukan dipantulkan, tetapi dihamburkan, sehingga sinyal akan jauh melemah.. Link troposcatter dengan sudut hamburan 5° akan mengalami atenuasi sekitar 100 dB, melemah 10 milyar lebih rendah daripada sinyal yang dikirim. Untuk mengatasi loss sinyal tersebut, pemancar biasanya menggunakan antena collinear berukuran besar, dan penerima menggunakan antena raksasa berukuran sampai 37 meter.
Nah, dari sini bisa kita tarik kesimpulan. Dengan antena yang sebesar itu dan ukuran inner antena yang besar pula bisa di pastikan signal yang dikirim/diterima tidaklah tinggi. Mengingat semakin tinggi frekuensi maka ukuran antena semakin kecil. Jadi dengan antena sebesar itu, tidak mungkin membawa sinyal data. sedangkan wifi saja sudah berada di frekuensi 2,4Ghz-5Ghz mampu membawa data sejauh 300+km ngapain repot bikin antena segede gaban?
Signal troposperic scatter sendiri bekerja di frekuensi 3-30Mhz (Mega hertz). Itu murni sinyal radio bre. Dan pernah kepikiran gak sih jaman dulu yang notabene masih semuanya analog emang bisa buat sinyal data? Gak logis pula membawa teknologi lawas dibandingkan dengan fungsi satelit saat ini. troposcatter yang masih dipakai saat ini pun murni untuk komunikasi radio jarak jauh.
Dan baru baru ini dipakai untuk transfer data jarak 100+ km mampu membawa bandwith 20Mbit. Jauh sekali dengan koneksi internet yang ada saat ini. Saya ambil contoh ubiquity af-24, bekerja di frequensi 24Ghz dan mampu membawa bandwith Gigabit di jarak yang sama.
ubiquity af-24
Pertanyaan nya adalah, apakah masih mau pake antena selebar 36meter? sedangkan untuk point to point di jarak yang sama bisa pake antena lebih kecil dan murah.
Link troposcatter pun bersifat point-to-point yang membutuhkan satu pasang antena pengirim dan antena penerima untuk setiap sambungan satu arah. Hal ini berbeda dengan satelit yang bersifat broadcast ke arah permukaan Bumi.
Troposcatter dulunya digunakan agar sinyal frekuensi radio dapat melewati lengkungan Bumi. Namun setelah ada teknologi satelit, banyak fungsi dari teknologi troposcatter digantikan oleh satelit. Teknologi satelit lebih praktis, lebih murah, serta lebih dapat menjangkau daerah yang lebih luas dan pengguna yang lebih banyak.
Kaum Bumi datar tak mau mengakui adanya satelit, lalu mereka mengarang skenario bahwa White Alice adalah “penjelasan” dari adanya layanan satelit yang ada saat ini. Tetapi, troposcatter dan White Alice memiliki karakteristik yang jauh berbeda daripada satelit, dan tentunya tak dapat menggantikan fungsi satelit saat ini. Skenario White Alice yang disampaikan kaum Bumi datar hanyalah asumsi yang mereka ciptakan untuk menutupi hal yang tak dapat dijelaskan asumsi lain yang mereka ciptakan sebelumnya, yaitu bahwa satelit tak ada. Asumsi di atas asumsi.
Semoga dengan tulisan ini bisa membuka fikira kalian. Kendatipun ada elit global yang memainkan ekonomi dunia, kita jangan sampai menentangnya dengan cara konyol. Hal itu hanya akan menjadi bahan olokan mereka. Sekian saja untuk tulisan kali ini, tetap waras dan jangan lupa mandi bre,



